Anak yang banyak tanya pasti dianggap cerewet. Kadang mereka
membuat orangtua tak sabar dan tak senang. Padahal mereka sedang menjalani
proses berpikir kritis yang bisa menjadi bekal untuk mereka menjalani kehidupan
di masa depan.
Ada saja pertanyaan yang dilontarkan si kecil semisal,
“Kenapa siang ada matahari dan malam ada bulan?” Atau di saat lain dia
bertanya, “Kenapa mobil tidak bisa terbang, tapi pesawat bisa?”
Dari hal sederhana sampai yang aneh memang kerap ditanyakan
si kecil. Ini menunjukkan daya nalarnya sedang berkembang. Bila terus diasah,
ia akan tumbuh menjadi pribadi yang kritis.
Perkembangan Daya Kritis Anak
Sejak dilahirkan, anak sudah mulai menjalani proses
berpikirnya. Stimulasi-stimulasi yang diberikan seperti warna dan suara untuk
merangsang respons juga salah satu upaya melatih kemampuan berpikirnya. “Kalau
proses berpikir kritisnya sendiri baru dimulai ketika ia bisa bicara dan
menanyakan sesuatu,” kata Eri Vidiyanto, M.Psi, psikolog pada Essa Consulting,
Jakarta.
Pertanyaan yang dilontarkan anak sesuai tahapan akan dimulai
dari yang ringan dan sifatnya fakta-fakta konkret, seperti apa, siapa, di mana.
Seiring bertambahnya usia dan si kecil mulai memahami apa yang ada di
sekelilingnya, maka pertanyaan yang diajukannya adalah hal yang perlu
penjelasan dan membutuhkan nalar, seperti kenapa. Hal-hal yang bersifat abstrak
pun, seperti soal nilai dan moral, secara bertahap mulai jadi bahan
pertanyaannya.
Perkembangan berpikir kritis pada anak ini, sayangnya sering
tak dimanfaatkan dengan baik. Tak banyak orangtua yang sabar menanggapi semua
pertanyaan anak. Selain malas menjawab atau memang tak tahu jawabannya,
sebagian orangtua malah memarahi anak yang banyak tanya ini. “Ini sebenarnya
menghambat proses berpikir kritis anak. Kalau orangtua tidak tahu jawabannya
lebih baik mengaku saja, lalu cari tahu jawabannya bersama-sama,” jelas Eri
yang menyelesaikan program profesi Psikologi Pendidikan Universitas Indonesia
ini.
Ayah satu anak ini melanjutkan, penjelasan yang dituntut
anak sebenarnya tak perlu ribetdan detil. “Yang penting cukup dijawab sesuai
umur dan kebutuhannya. Jelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami anak,”
katanya. Tentu saja untuk menjawab pertanyaan mereka orangtua memang perlu
terus belajar dan memperluas wawasan.
Selalu ada kemungkinan anak menanyakan hal-hal yang dianggap
tabu, misalnya seks, kehamilan dan sejenisnya. Nah, biasanya orangtua langsung
memotong pertanyaan itu dan menganggapnya jorok. Lagi-lagi, ini akan menghambat
proses berpikir kritis anak.
Sebenarnya anak tak punya tendensi apa-apa saat bertanya
seputar hal tersebut. Mereka hanya ingin tahu. Beri jawaban sederhana saja, tak
usah detil yang malah membuat pusing anak, itu yang sebaiknya orangtua lakukan.
Kritis itu Cerewet?
Anak yang banyak tanya, memang kadang membuat orang-orang di
sekitarnya pusing. Tak jarang ia dianggap bawel dan cerewet. “Sebenarnya ini
bukan cerewet, tapi mereka sedang berusaha mencari tahu dan memang harus
direspons dengan positif,” ujar Eri.
Rasa ingin tahu yang bisa berkembang menjadi pemikiran
kritis ini sesungguhnya semakin diperlukan anak terutama untuk menghadapi
kemajuan teknologi dan informasi yang terus berkembang.
Nilai-nilai baru, termasuk di dalamnya gaya hidup, yang
terus tumbuh dan mendunia pun perlu direspons anak secara kritis. Kelak mereka
tak asal ikut-ikutan saja karena selalu ada proses berpikir kritis dalam diri
mereka, apakah ini boleh dan baik untuk dilakukan atau sebaliknya.
Begitu juga dalam proses pemecahan masalah. Kemampuannya
berpikir kritis membuat anak menyimpan banyak informasi. Ini menjadi dasar
untuk memecahkan masalah yang ia hadapi. Tak hanya satu, bahkan ia bisa membuat
banyak pilihan solusi dalam memecahkan satu masalah yang dihadapinya. Jelas, ia
akan selalu bisa bersikap optimis dan tak pantang menyerah.
Lalu apa yang harus dilakukan orangtua untuk membentuk anak
mampu berpikir kritis? Pertama, ciptakan suasana dialogis dalam keluarga. Anak
bisa mengungkapkan pertanyaan, isi hati, dan pendapatnya dalam keluarga, lalu
didengar dan ditanggapi dengan baik. Mereka bisa berdiskusi apa saja dengan
orangtua atau anggota keluarga lainnya.
Pemilihan jenis mainan, menurut Eri, juga bisa berpengaruh
kepada proses berpikir kritis anak. Kemampuan berpikir kritis anak tidak akan
terlalu berkembang bila, misalnya, hanya diberikan mainan instan, langsung bisa
dipakai, seperti play station. Pola mainannya sudah jelas dan anak hanya
menerima dan memainkan saja, tidak ada rangsangan untuk berpikir kritis.
Sebaiknya berikan permainan seperti lego atau puzzle yang
merangsangnya untuk berpikir dan bekerja. Atau ajarkan anak membuat mainannya
sendiri dari bahan-bahan yang tersedia di sekitar rumah, seperti mainan dari
kulit jeruk bali. Anak akan berpikir dan terlatih kreativitasnya. Memang butuh
kesabaran dan waktu dari orangtua, namun hasilnya nanti akan sepadan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar