Rabu, 20 Februari 2013

Nikmati Hidup Apa Adanya Bukan Ada Apanya



Kebanyakan orang menganggap bahwa orang kaya akan lebih bisa menikmati hidup dibanding dengan orang miskin yang tidak punya harta. Bahkan ada yang berfikir bahwa untuk bisa menikmati hidup orang harus kaya, rumahnya mewah, mobilnya mewah, bajunya bagus2, uangnya melimpah dsb. Dia bisa makan di restoran mewah mana saja yang dia mau, mau beli apa saja mampu, setiap hari libur bisa ke Nngara mana yang dia suka. Mau beramal banyak juga mampu. Sedangkan orang miskin? Yah, gak bisa ngapa-ngapain karena duit juga pas-pasan. Kesana kemari naik angkot atau sepeda, capek dehh!

Benarkah demikian? Memang sebagian besar tidak salah. Tapi ada hal-hal yang orang tidak pernah berfikir bahwa manusia diciptakan Allah swt sebagai makhluk adaptif, orang bisa menikmati hidup dengan apa yang dia punyai. Kebahagiaan bukan hanya monopoli orang kaya dan sebaliknya penderitaan juga bisa dialami baik oleh orang melarat maupun konglomerat. Kita syukuri aja rizki yang kita punya. Kita nikmati apa adanya. Toh jadi orang kaya belum tentu bisa menikmati hartanya. Naik mobil mewah, tapi jika jalanan macet dan banyak masalah yang dipikirin juga gak kerasa nikmatnya. Makan di restoran mewah pun sudah bosan karena saking seringnya, bahkan mungkin sudah tidak bisa merasakan nikmat lagi. Apalagi kalau dia menderita berbagai penyakit seperti gula, ginjal, jantung dsb, maka makanan2 lezat pun nampak mengerikan, bagaikan malaikat pencabut nyawa layaknya!
Ada juga sih orang kaya yang sehat, bisa menikmati hidup dengan hartanya, sering pergi ke manca negara dengan keluarga. Sudah haji dan umrah berkali-kali lagi!

Tapi orang miskinpun bisa menikmati hidup dengan apa adanya, yang penting dia bisa mensyukuri nikmat yang dia. Kalau lagi lapar habis kerja kuli mungkin makanan lauk tempe dan sayur bisa terasa sangat nikmat, jalan-jalan ke kebun binatang naik angkot tidak masalah. Gak bisa ke Mekah, yah ke masjid Agung cukuplah!
Kalau dipikir, pada zaman dulu, sebelum teknologi maju seperti sekarang ini, tidak ada mobil, orang bepergian naik delman atau bahkan gerobak sapi, tidak ada pizza, makanan masih tradisional dan sederhana, tidak ada televisi, tidak ada tempat rekreasi seperti Dufan atau Trans Studio, toh orang bisa menikmati hidup sesuai dengan kondisi waktu itu.

Nah coba deh kita renungkan hal ini. Yakinlah Allah itu maha adil, tidak mengenal kaya dan miskin; senang dan susah bisa menimpa keduanya. Kenikmatan adalah milik orang yang bersyukur dan keluh kesah adalah milik orang yang kufur.

La In Syakartum La Aziidannakum Wa Lain Kafartum Inna ‘Adzaabi La Syadiid Artinya: Apabila kamu bersyukur (terhadap nikmat Allah) niscaya Allah akan menambah nikmat terhadapmu, (namun ingat saudara) dan apabila kamu ingkar terhadap nikmatKu , ketahuilah siksa Allah itu sangat pedih.

(sahabat Apel)

Si Kecil Sedang Berpikir Kritis, Bukan Cerewet



Anak yang banyak tanya pasti dianggap cerewet. Kadang mereka membuat orangtua tak sabar dan tak senang. Padahal mereka sedang menjalani proses berpikir kritis yang bisa menjadi bekal untuk mereka menjalani kehidupan di masa depan.

Ada saja pertanyaan yang dilontarkan si kecil semisal, “Kenapa siang ada matahari dan malam ada bulan?” Atau di saat lain dia bertanya, “Kenapa mobil tidak bisa terbang, tapi pesawat bisa?”

Dari hal sederhana sampai yang aneh memang kerap ditanyakan si kecil. Ini menunjukkan daya nalarnya sedang berkembang. Bila terus diasah, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang kritis.

Perkembangan Daya Kritis Anak

Sejak dilahirkan, anak sudah mulai menjalani proses berpikirnya. Stimulasi-stimulasi yang diberikan seperti warna dan suara untuk merangsang respons juga salah satu upaya melatih kemampuan berpikirnya. “Kalau proses berpikir kritisnya sendiri baru dimulai ketika ia bisa bicara dan menanyakan sesuatu,” kata Eri Vidiyanto, M.Psi, psikolog pada Essa Consulting, Jakarta.

Pertanyaan yang dilontarkan anak sesuai tahapan akan dimulai dari yang ringan dan sifatnya fakta-fakta konkret, seperti apa, siapa, di mana. Seiring bertambahnya usia dan si kecil mulai memahami apa yang ada di sekelilingnya, maka pertanyaan yang diajukannya adalah hal yang perlu penjelasan dan membutuhkan nalar, seperti kenapa. Hal-hal yang bersifat abstrak pun, seperti soal nilai dan moral, secara bertahap mulai jadi bahan pertanyaannya.

Perkembangan berpikir kritis pada anak ini, sayangnya sering tak dimanfaatkan dengan baik. Tak banyak orangtua yang sabar menanggapi semua pertanyaan anak. Selain malas menjawab atau memang tak tahu jawabannya, sebagian orangtua malah memarahi anak yang banyak tanya ini. “Ini sebenarnya menghambat proses berpikir kritis anak. Kalau orangtua tidak tahu jawabannya lebih baik mengaku saja, lalu cari tahu jawabannya bersama-sama,” jelas Eri yang menyelesaikan program profesi Psikologi Pendidikan Universitas Indonesia ini.

Ayah satu anak ini melanjutkan, penjelasan yang dituntut anak sebenarnya tak perlu ribetdan detil. “Yang penting cukup dijawab sesuai umur dan kebutuhannya. Jelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami anak,” katanya. Tentu saja untuk menjawab pertanyaan mereka orangtua memang perlu terus belajar dan memperluas wawasan.

Selalu ada kemungkinan anak menanyakan hal-hal yang dianggap tabu, misalnya seks, kehamilan dan sejenisnya. Nah, biasanya orangtua langsung memotong pertanyaan itu dan menganggapnya jorok. Lagi-lagi, ini akan menghambat proses berpikir kritis anak.

Sebenarnya anak tak punya tendensi apa-apa saat bertanya seputar hal tersebut. Mereka hanya ingin tahu. Beri jawaban sederhana saja, tak usah detil yang malah membuat pusing anak, itu yang sebaiknya orangtua lakukan.

Kritis itu Cerewet?

Anak yang banyak tanya, memang kadang membuat orang-orang di sekitarnya pusing. Tak jarang ia dianggap bawel dan cerewet. “Sebenarnya ini bukan cerewet, tapi mereka sedang berusaha mencari tahu dan memang harus direspons dengan positif,” ujar Eri.

Rasa ingin tahu yang bisa berkembang menjadi pemikiran kritis ini sesungguhnya semakin diperlukan anak terutama untuk menghadapi kemajuan teknologi dan informasi yang terus berkembang.

Nilai-nilai baru, termasuk di dalamnya gaya hidup, yang terus tumbuh dan mendunia pun perlu direspons anak secara kritis. Kelak mereka tak asal ikut-ikutan saja karena selalu ada proses berpikir kritis dalam diri mereka, apakah ini boleh dan baik untuk dilakukan atau sebaliknya.

Begitu juga dalam proses pemecahan masalah. Kemampuannya berpikir kritis membuat anak menyimpan banyak informasi. Ini menjadi dasar untuk memecahkan masalah yang ia hadapi. Tak hanya satu, bahkan ia bisa membuat banyak pilihan solusi dalam memecahkan satu masalah yang dihadapinya. Jelas, ia akan selalu bisa bersikap optimis dan tak pantang menyerah.

Lalu apa yang harus dilakukan orangtua untuk membentuk anak mampu berpikir kritis? Pertama, ciptakan suasana dialogis dalam keluarga. Anak bisa mengungkapkan pertanyaan, isi hati, dan pendapatnya dalam keluarga, lalu didengar dan ditanggapi dengan baik. Mereka bisa berdiskusi apa saja dengan orangtua atau anggota keluarga lainnya.

Pemilihan jenis mainan, menurut Eri, juga bisa berpengaruh kepada proses berpikir kritis anak. Kemampuan berpikir kritis anak tidak akan terlalu berkembang bila, misalnya, hanya diberikan mainan instan, langsung bisa dipakai, seperti play station. Pola mainannya sudah jelas dan anak hanya menerima dan memainkan saja, tidak ada rangsangan untuk berpikir kritis.

Sebaiknya berikan permainan seperti lego atau puzzle yang merangsangnya untuk berpikir dan bekerja. Atau ajarkan anak membuat mainannya sendiri dari bahan-bahan yang tersedia di sekitar rumah, seperti mainan dari kulit jeruk bali. Anak akan berpikir dan terlatih kreativitasnya. Memang butuh kesabaran dan waktu dari orangtua, namun hasilnya nanti akan sepadan.

Kisah Inspirasi Dari Bocah Bernama Zhang Da



ZhangdaSeorang anak di China pada 27 Januari 2006 mendapat penghargaan tinggi dari pemerintahnya karena dinyatakan telah melakukan “Perbuatan Luar Biasa”. Diantara 9 orang peraih penghargaan itu, ia merupakan satu-satunya anak kecil yang terpilih dari 1,4 milyar penduduk China.

Yang membuatnya dianggap luar biasa ternyata adalah perhatian dan pengabdian pada ayahnya, senantiasa kerja keras dan pantang menyerah, serta perilaku dan ucapannya yang menimbulkan rasa simpati.

Sejak ia berusia 10 tahun (tahun 2001) anak ini ditinggal pergi oleh ibunya yang sudah tidak tahan lagi hidup bersama suaminya yang sakit keras dan miskin. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan.

Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang pasti tidak murah untuk dia. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai.

Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah.

Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan Papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya.

Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui.

Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan.

Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya.

Hidup seperti ini ia jalani selama 5 tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat. Zhang Da merawat Papanya yang sakit sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat papanya.

Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari.

Zhang Da menyuntik sendiri papanya. Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli.

Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi / suntikan kepada pasiennya. Setelah ia rasa mampu, ia nekat untuk menyuntik papanya sendiri. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah terampil dan ahli menyuntik.

Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, pembawa acara (MC) bertanya kepadanya,
“Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu? Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah?
Besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir.
Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!”
Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, “Sebut saja, mereka bisa membantumu.”
Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar ia pun menjawab,
“Aku mau mama kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama kembalilah!”

Semua yang hadir pun spontan menitikkan air mata karena terharu. Tidak ada yang menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya?

Mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit? Mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, pasti semua akan membantunya.

Mungkin apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku mau Mama kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.

Kisah di atas bukan saja mengharukan namun juga menimbulkan kekaguman. Seorang anak berusia 10 tahun dapat menjalankan tanggung jawab yang berat selama 5 tahun. Kesulitan hidup telah menempa anak tersebut menjadi sosok anak yang tangguh dan pantang menyerah.

Zhang Da boleh dibilang langka karena sangat berbeda dengan anak-anak modern. Saat ini banyak anak yang segala sesuatunya selalu dimudahkan oleh orang tuanya. Karena alasan sayang, orang tua selalu membantu anaknya, meskipun sang anak sudah mampu melakukannya. [islamedia]

Istri Harus Taat Suami atau Orang Tua



REPUBLIKA.CO.ID, Suatu saat, dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik RA dikisahkan—sebagian ahli hadis menyebut sanadnya lemah—, tatkala sahabat bepergian untuk berjihad, ia meminta istrinya agar tidak keluar rumah sampai ia pulang dari misi suci itu. Di saat bersamaan, ayah anda istri sedang sakit. Lantaran telah berjanji taat kepada titah suami, istri tidak berani menjenguk ayahnya.

Merasa memiliki beban moral kepada orang tua, ia pun mengutus seseorang untuk menanyakan hal itu kepada Rasulullah. Beliau menjawab, “Taatilah suami kamu.” Sampai sang ayah menemui ajalnya dan dimakamkan, ia juga belum berani berkunjung. Untuk kali kedua, ia menanyakan perihal kondisi nya itu kepada Nabi SAW. Jawaban yang sama ia peroleh dari Rasulullah, “Taatilah suami kamu.” Selang berapa lama, Rasulullah mengutus utusan kepada sang istri tersebut agar memberitahukan Allah telah mengampuni dosa ayahnya berkat ketaatannya pada suami.

Kisah yang dinukil oleh at-Thabrani dan divonis lemah itu, setidaknya menggambarkan tentang bagaimana seorang istri bersikap. Manakah hak yang lebih didahulukan antara hak orang tua dan hak suami, tatkala perempuan sudah menikah. Bagi pasangan suami istri, ‘dialektika’ kedua hak itu kerap memicu kebingungan dan dilema.

Syekh Kamil Muhammad ‘Uwaidah dalam buku Al Jami’ fi Fiqh An Nisaa’ mengatakan seorang perempuan, sebagaimana laki-laki, mempunyai kewajiban sama berbakti terhadap orang tua. Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA menguatkan hal itu. Penghormatan terhadap ibu dan ayah sangat ditekankan oleh Rasulullah. Mengomentari hadis itu, Imam Nawawi mengatakan hadis yang disepakati kesahihannya itu memerintahkan agar senantiasa berbuat baik kepada kaum kerabat. Dan, yang paling berhak mendapatkannya adalah ibu, lalu bapak. Kemudian disusul kerabat lainnya.

Namun, menurut Syekh Yusuf al- Qaradhawi dalam kumpulan fatwanya yang terangkum di Fatawa Mu’ashirah bahwa memang benar, taat kepada orang tua bagi seorang perempuan hukumnya wajib. Tetapi, kewajiban tersebut dibatasi selama yang bersangkutan belum menikah. Bila sudah berkeluarga, seorang istri diharuskan lebih mengutamakan taat kepada suami. Selama ke taatan itu masih berada di koridor syariat dan tak melanggar perintah agama.

Oleh karena itu, imbuhnya, kedua orang tua tidak diperkenankan mengintervensi kehidupan rumah tangga putrinya. Termasuk memberikan perintah apa pun padanya. Bila hal itu terjadi, merupakan kesalahan besar. Pasca menikah maka saat itu juga, anaknya telah me ma suki babak baru, bukan lagi di bawah tanggungan orang tua, melain kan menjadi tanggung jawab suami. Allah SWT berfirman, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan se ba hagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita). (QS an-Nisaa’ [4]: 34).

Meski demikian, kewajiban menaati suami bukan berarti harus memutus tali silaturahim kepada orang tua atau mendurhakai mereka. Seorang suami dituntut mampu menjaga hubungan baik antara istri dan keluarganya. Ikhtiar itu kini—dengan kemajuan teknologi—bisa diupayakan sangat mudah. Menyambung komunikasi dan hubungan istri dan keluarga bisa lewat telepon, misalnya.

Alqaradhawi menambahkan, di antara hikmah di balik kemandirian sebuah rumah tangga ialah meneruskan estafet garis keturunan. Artinya, keluarga dibentuk sebagai satu kesatuan yang utuh tanpa ada intervensi pihak luar. Bila selalu ada campur tangan, laju keluarga itu akan tersendat. Sekaligus menghubungkan dua keluarga besar dari ikatan pernikahan. Allah SWT berfirman, “Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Mahakuasa.” (QS al-Furqan [25]: 54).

Ia menyebutkan beberapa hadis lain yang menguatkan tentang pentingnya mendahulukan ketaatan istri kepada suami dibandingkan orang tua. Di antara hadis tersebut, yaitu hadis yang diriwa yatkan oleh al-Hakim dan ditashih oleh al-Bazzar. Konon, Aisyah pernah berta nya kepada Rasulullah, hak siapakah yang harus diutamakan oleh istri? Rasulullah menjawab, “(hak) suaminya.” Lalu, Aisyah kembali bertanya, sedang kan bagi suami hak siapakah yang lebih utama? Beliau menjawab, “(Hak) ibunya.”